KERAGAMAN DAN PERSEBARAN FAUNA ANURA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN CAGAR ALAM DAN TAMAN WISATA ALAM TELAGA WARNA

Wawan Setiawan, Wahyu Prihatini, Sri Wiedarti

Abstract


Hewan Anura yang mencakup katak dan kodok, berperan penting sebagai bioindikator kualitas ekosistem, dan pengendalian populasi serangga di alam, terutama nyamuk. Katak dan kodok sangat peka terhadap perubahan lingkungan, terutama saat stadium larva (berudu). Apabila di suatu wilayah sudah tidak ditemukan katak/kodok, dapat dikatakan kualitas lingkungan di wilayah tersebut tidak baik. Pengambilan data dilakukan pada tiga lokasi di dalam kawasan CATWA Telaga Warna. Pengamatan menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES), berlangsung pada bulan November 2016. Analisis dilakukan terhadap tingkat keragaman spesies berdasarkan indeks Shannon-Wienner, frekuensi pertemuan spesies, dan kepadatan spesies. Hasil penelitian mendapati 11 spesies Anura dari 5 famili, yaitu Megophryidae, Microhylidae, Ranidae, Dicroglossidae, dan Rhacoporidae. Tingkat keragaman spesies Anura tergolong sedang (H’ = 0,152). Kepadatan spesies Anura berkisar antara 0,07-0,24 ekor/m2, dengan kepadatan tertinggi ditunjukkan oleh Rhacophorus margaritifer. Frekuensi pertemuan spesies berkisar antara 0,01-3,6 %, dengan frekuensi tertinggi dijumpai pada Rana chalconota. Secara umum kualitas ekosistem CATWA Telaga masih cukup baik, terutama di area Rawa Gayung, namun keragaman spesies Anura yang ditemukan cenderung lebih rendah dibandingkan temuan tahun 2010.

Full Text:

PDF

References


Ardiansyah, D., A. Karunia, T.. Auliandina, D. A. Putri, M. I. Noer, 2014. Kelimpahan Kodok Jam Pasir Leptophryne borbonica di Sepanjang

Aliran Sungai Cisuren, Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 2 (2): 15.

Barus, T. A., 2004. Pengantar Limnologi. Studi Tentang Ekosistem Air Daratan.USU Press. Medan. 23

Brower, J. E., J.H. Zar, 1997. Fieled and Laboratory Medhods for General Ecology. Jakarta. 21

Eprilurahman 2007. Frogs and Toads of Daerah Istimewa Yogyakarta. UGM. Yogyakarta. 13-25.

IUCN. 2004. The IUCN Red List of Threatened Species. Diakses 21 Juni 2016. pkl 12.05 WIB.

IUCN. 2006. The IUCN Red List of Threatened Species. Diakses 21 Juni 2016. pkl 02.30 WIB

Iskandar, D. T. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Seri Panduan Lapangan. Puslitbang LIPI. Bogor.1-3.

Kusrini, M. D. 2009. Pedoman Penelitian dan Survei Amfibi di Alam. IPB. Bogor. 19

Kusrini, M. D. 2013. Panduan Bergambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat. Fahutan IPB dan Direktorat KKH. Bogor. 30

Octaviani,R.2010. Keragaman dan Kelimpahan Anura. Skripsi Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pakuan. 17.

Pujaningsih, R.I. 2007. Seri Budidaya Kodok Lembu. Kanisius. Yogyakarta. 26

Sparling, D.W., G. Linder, C. A. Bishop. 2000. Ecotoxicology of Amphibians and Reptiles. SETAC Technical Publications. Colombia. 87.

Nasir, M.D., A. Priyono, M. D. Kusrini 2003. Keanekaragaman Amfibi (Ordo Anura) di Sungai Ciapus Leutik, Bogor, Jawa Barat. LIPI. 61.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.